Kisah hidup Mamaku yang di vonis gagal ginjal kronik

Sekelumit kisah tentang hidup-ku sebelum aku divonis terkena gagal ginjal. Sebelumnya aku memang mengidap penyakit diabetes keturunan dan tekanan darah tinggi.

Tahun 2010, tanggal dan harinya aku lupa, sekitar pukul 14.00, kadar gula darah-ku sempat mengalami penurunan (drop) sampai ke angka 20, aku tidak sadarkan diri dan dibawa serta dirawat di RS Mitra Keluarga Kelapa Gading selamat 10 hari.

Setelah pulang dari rumah sakit, setahun kemudian, mungkin dikarenakan hemoglobin-ku yang rendah (anemia), tahun 2011 aku terjatuh dari tempat tidur dan paha-ku mengalami retak tepatnya dibagian bongkol sendi paha kiri. Karena korban dengar orang untuk pengobatan alternatif, maka paha-ku ditangani dengan cara dipijat sana-sini. Akibatnya fatal, kaki-ku menjadi lebih pendek disebelah kiri. Kini aku berjalan dengan bantuan alat bantu-tongkat.

Wow… belum habis sampai disitu dengan penuh kepasrahan aku menjalani hidup-ku ini dengan berserah. Selama itu aku pakai untuk membaca, melakukan pekerjaan ibu RT (rumah tangga), seperti memasak, dsb.

Aku selalu mendapat brosur dari Klub Sayang Ginjal, aku selalu tidak ketinggalan untuk membacanya, karena ingin tahu perkembangan penyakit-penyakit terkini.

Suatu hari aku membaca tentang apa itu gagal ginjal dan disitu tertulis bahwa orang yang terkena penyakit tsb, kini, tidak perlu takut, pengobatan sudah semakin canggih, cuci darah dapat diganti dengan cairan dan dapat dilakukan di rumah maupun di bawa ke sana, kemari. Sebagai orang awam dalam hati cuma bertanya-tanya, cairan apa dan bagaimana? Sering saya baca ulang-ulang artikel itu.

Pada tahun 2012 ini, benar-benar aku sendiri yang divonis kena gagal ginjal, bagaikan petir di siang hari. Aku selalu berdoa. Oh…Tuhan kalau boleh jangan dulu dan dan dapat diberi minum obat untuk kesembuhannya, tapi kenyataannya lain, aku divonis mengalami gagal ginjal akhir.

Mungkin karena aku sudah sering membaca artikel-artikel di selebaran, aku masih tenang awalnya. Seluruh tubuhku penuh dengan ‘tato’ yang abstrak, karena aku mengalami gatal-gatal. Akhirnya, ya… aku masuk RS Cikini untuk dioperasi dan dipasang CAPD. Dengan tenang dan pasrah aku masuk ke kamar operasi, aku sendiri heran mengapa aku tak ada ketakutan sedikitpun. Aku hanya terus berdoa dan mengucapkan kata-kata… Tuhan ku serahkan nyawaku ke dalam tangan kasih-Mu

Saat ini, aku menjalani hidup ini dengan penuh suka cita, bukan hanya aku sendirian yang mengalami kejadian ini, masih banyak orang yang seperti aku yang kutemui di rumah sakit Cikini.
Aku menjalani hidup ini dengan penuh santai dan pasrah, yang penting keluarga memberi dukungan begitu juga tim medis di RS Cikini.

Terima kasih untuk keluarga ku, suamiku, anak-anakku, mantu-mantuku, dan cucu-cucuku, begitu juga tim medis yang menangani aku ini.

4 thoughts on “Kisah hidup Mamaku yang di vonis gagal ginjal kronik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s